Tersebutlah seseorang yang amat kehausan. Ia berada disebuah puncak benteng yang amat tinggi. Dibawah benteng itu terdapat sungai yang mengalir dan sangat jernih airnya. Ia ingin sekali memperoleh air itu untuk menghapus segala rasa dahaganya, namun benteng itu menghalanginya sampai ke tempat dimana air itu mengalir.
Maka dengan tenaga yang tersisa, ia menjatuhkan batu-batu dari benteng itu satu demi satu.
Batu yang jatuh kedalam sungai itu menimbulkan suara gemericik air yang indah baginya, lebih indah daripada kabar gembira kepada seorang napi yang akan dibebaskan. Sampai-sampai Ia menangis saat gemericik air terdengar lagi olehnya. Makin indah ia mendengar suara gemericik air itu, maka makin sering ia menjatuhkan batu-batu dari benteng itu. Dan akhirnya terdengar suara dari sungai yang mengalir dibawah itu lalu bertanya kepadanya :
“ Hai, manusia, mengapa engkau jatuhkan batu-batu itu ?”
Orang yang kehausan itu menjawab : “ Aku menjatuhkan batu-batu ini karena ada dua kepentingan. Pertama, karena aku sangat menikmati suara gemericik air yang indah saat kujatuhkan batu-batu ini. Dan yang kedua, karena dengan meruntuhkan batu-batu ini, semakin lama aku semakin dekat dengan pusat air yang selama ini aku rindukan …”.
Kisah dari JALALUDDIN RUMI ini, sebetulnya memberi pesan kepada kita bahwa air yang jernih itu mencerminkan suatu kesucian yang menimbulkan suasana keindahan hati yang dirindukan, dan hanya Allah-lah yang dirindukan oleh setiap hamba yang shalih. Dan orang hanya bisa merindukan Allah dengan jalan meruntuhkan batu-batu hawa nafsu yang membentenginya. Makin sering ia merobohkan batu-batu hawa nafsu itu, maka makin tampaklah kepadanya ‘keindahan’ Allah. Semakin dalam kerinduanya kepada Allah, semakin dekat ia disisi-Nya.
Wallaahu’alam.
Terimakasih Atas Kunjungan Anda



